Jumat, 22 Juli 2011

Di bawah Gugurnya Daun-daun #2

 "Hey pangeran!" seseorang menepuk pundakku. Ah, lagi-lagi disebut pangeran...
     "Ngapain bengong sore-sore begini di bawah pohon?" tanyaya. Ternyata si Rio. Berdiri di depanku dengan gayanya yang khas. Ketika kulihat ke bawah, seperti biasa tali sepatunya masih terburai dan bagian belakangnya dia injak. Ketika dia akan duduk di sebelahku, segera kuteringat sesuatu.
     "Hey awas...!" kudorong badannya yang hampir menduduki kotak coklatku. Ketika kuambil kotak coklat itu, tanganku merasakan sensasi aneh saat menyentuhnya. Suatu sensasi seperti sedih, barangkali mendekati patah hati. Ya, barangkali begitu. Kubawa kotak coklat itu ke atas tas ransel di pangkuanku.
     "Eh sorry... Itu... coklat yang kemarin ya..." katanya pelan sambil menunduk membetulkan tali sepatunya.
     "Begitulah," jawabku. Jemari tanganku memutar-mutar kotak 20 x 20 senti itu.
     "Hahah... Pangeran cinta bisa juga bertampang sedih begini. Kena karma kau...!" katanya lagi.
     Sial... gerutuku dalam hati.
     "Lagipula kau pilih Nurani sih. Heheheh..."
     "Hhh... Apa sih yang bikin kau begitu senang melihat aku seperti ini Yo?" tanyaku. Kesal.
     "Bukannya aku senang. Tapi kau memang jadi lucu," katanya sambil tetap tersenyum. Aku memalingkan wajahku darinya dan kembali menatap daun-daun.
     "Sudahlah. Terserah kau mau meneruskan perjuanganmu ini, atau berganti strategi, atau mau menyerah dan berhenti. Saranku, kau jangan terlalu percaya diri."
     "Maksudmu?" tanyaku.
     "Menurutku ini cukup sulit. Pertama, ada persahabatan dua gadis yang kau usik dalam urusan ini. Kedua, ini adalah tentang Nurani. Ketiga, ini tentang kau sendiri. Satu hal yang aku kagum darimu adalah sifatmu yang tak mudah menyerah. Sedangkan yang aku herankan adalah sifatmu yang juga tidak mau introspeksi diri. Yaa... baiknya kau renungkanlah. Mengapa sudah sampai empat bulan ini tak ada hasil apapun yang kau dapat" katanya. Panjang lebar anak ini menasehati aku. Meski di kelas tiga ini kita tak lagi sekelas, tak kusangka dia tetap memperhatikan aku sebagai sahabatnya.
     "Terus coklat itu mau kau apakan?" tanyanya.
     "Entahlah."
     "Kau makan saja sendiri," katanya lagi.
     "Hahaha... tak mungkinlah. Bisa-bisa coklat ini terasa pahit semua kalau kumakan di saat-saat seperti ini," kataku.
     "Haha, kukira buat pangeran cinta sepertimu, tahi ayampun kalau dimakan bisa semanis coklat," Rio ikut tertawa.
     "Sial! Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, hahaha..." akupun tertawa bersamanya.
      Ketika tawa kami reda, aku berkata, "Aku kan tidak boleh makan coklat Yo..."
      Rio berhenti tertawa. "Oh iya aku lupa," katanya.
      "Lantas apa mau kau berikan pada Maya seperti kata Nurani?" dia bertanya sambil tersenyum jahil.
      "Apa maksudmu? Kau tadi di sini waktu Nurani mengembalikan coklat ini?"
      "Hahaha... iya aku mengintip dari jauh, hahaha...'mengapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu...'"
      "Dasar dodol kau," aku bersiap menjitak kepalanya, Rio segera menghindar. Enak saja dia melihat aku dalam keadaan salah tingkah seperti tadi.
      "Tadi waktu bersiap shalat ashar, air di tempat wudhu mushala tak mengalir, jadi aku wudhu di keran taman di sana. Tak sengaja lah aku diam dulu perhatikan kalian di sini. 'Ooooo.... You know me so well...'"
      "Berisik kau...!" umpatku.
      "Hehehe,,, santai lah pangeran... Eh ngomong-ngomong sudah shalat ashar belum kau? Sudah setengah lima ini," katanya.
      "Hm... belum. Biar shalat di rumah sajalah. sekarang aku mau pulang,"
      "Shalatlah di sini, kalau di rumah bisa jam setengah enam baru kau sampai,"
      "Ga apa-apa deh,"
      "Nah, pangeran cinta macam begini mau dapat gadis seperti Nurani, mana bisa..."
       "Iya iya aku shalat sekarang. Sudah sana kau pulang"
       "Nah, shalatlah yang khusyuk, tapi jangan karena Nurani ya, heheh..."
       "Iya, aku mengerti," kataku sambil berjalan menuju mushala sekolah. Kotak coklat berpita biru muda sudah berada di dalam tasku, menunggu nasibnya setelah ini.
       Mungkin Rio benar. Apa lelaki seperti aku bisa mendapatkan gadis seperti Nurani. Kalaupun seandainya aku memperbaiki diri, akankah Tuhan melihat perubahan baikku itu sebagai niat yang tulus? Tidakkah Tuhan akan marah padaku kalau aku berubah karena seorang gadis yang kusukai...?
       Ah aku bingung. Langit menggelap di atasku. Sebaiknya aku segera shalat.


       Di bawah pohon beringin, Rio menatap punggung sahabatnya sejak kelas satu dan dua SMA itu menuju mushola. Ketika akan beranjak pulang, kakinya menginjak selembar kertas dengan tulisan miring ke kanan khas tulisan sahabatnya. Ia tersenyum membacanya. Sebuah puisi.
       Rio melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya kemudian beranjak pulang. Angin kembali bertiup menggugurkan daun-daun.

Di Bawah Gugurnya Daun-daun #1

     Nurani tergesa-gesa memburu gerbang sekolahnya. Di tengah perjalanannya menuju jalan raya untuk mencegat angkot, pada wajahnya yang menunduk sepanjang jalan, bukan hanya ujung sepatunya yang telah sedikit sobek yang tampak di matanya. Bukan pula hanya permukaan jalan berkerikil yang ia pijak di setiap langkah, tetapi juga wajah itu menampakkan dirinya lagi.
     Tergambar pula kejadian kemarin pagi saat hendak memasuki kelas. Seorang anak lelaki dari tiga kelas di sebelah kelasnya, berdiri menyodorkan sebuah kotak bening berpita biru muda. Di dalamnya berjejer coklat-coklat mungil yang tampak sangat lezat. "Nur... Nurani! Se... selamat ulang tahun!," katanya hampir berteriak. Cukup keras untuk terdengar oleh seluruh teman-teman satu kelasnya yang sebagian besar sudah duduk di bangku masing-masing.
      Seiring koor "Ciyeeeeee........." yang riuh dari dalam kelas, memerahlah wajah Nurani karenanya. Saat itu pula Nurani tanpa sengaja menatap wajah anak lelaki itu dengan maksud meminta penjelasan. Namun yang ia lihat adalah wajah yang tersenyum kikuk dengan rona yang tak kalah memerah jambu. Wajah yang selama ini selalu ia hindari untuk menatapnya meski hanya sekilas, ternyata cukup menarik...
     Di tengah situasi yang membingungkan itu, di tengah bel tanda masuk kelas yang mengalun keras, Rio, ketua kelas Nurani entah bagaimana berinisiatif mengambil kotak coklat dari tangan anak lelaki itu.
     "Terimakasih ya pangeran tampan, putri Nurani dengan senang hati menerima hadiahnya. Biar saya ajudannya yang mengambilkan ya, soalnya bel masuk sudah berbunyi..." katanya sambil cengengesan. Kotak coklat itu ia serahkan pada Rio dan anak lelaki itu garuk-garuk kepalanya sambil membalikkan badan menuju kelasnya. Dengan senyum kikuknya ia melambaikan tangan pada Nurani. Segera saja hampir seluruh teman sekelasnya membalas melambaikan tangan dan bersamaan berkata, "Bye bye pangeran...."
     Dan Nurani yang masih mematung di depan pintu segera ditarik oleh seoran teman perempuannya hingga ke tempat duduk. Masih nampak kaget, Nurani duduk di bangkunya. Tak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Rio saat menaruh kotak coklat itu di hadapannya. Tak juga terdengar jelas sambutan tawa seluruh teman sekelas karena keusilan tingkah Rio barusan. Suasana seperti itu tetap bertahan beberapa menit hingga guru yang mengajar di jam pertama telah datang. Senyuman teman-teman sekelasnya dan bisikan "Deu...." atau "Ciyeee..." atau "Ekhem Nurani, ekhem..." dari beberapa temannya masih ia dengar hingga sepanjang hari itu di sekolah. Kotak coklat itu tersimpan di laci meja Nurani hingga terpaksa ia membawanya pulang dan memutuskan untuk mengembalikannya.
     Oh sungguh mengesalkan. Rasanya ingin segera sampai di rumah sekarang juga. Tak ingin melewatkan perjalanan selama setengah jam ini dengan perasaan tak karuan. Tak ingin nanti di angkot terpikir tentang peristiwa kemarin, ataupun yang baru saja terjadi. Tak ingin nanti terbayang wajah orang itu yang bisa membuat pipinya merona.
     Akhirnya Nurani tiba di tepi jalan raya. Sebuah angkot berwarna hijau berhenti di depannya dan ia segera naik.
     Satu hal lagi yang membuatnya semakin tak karuan adalah Maya. Sahabatnya yang sejak dua bulan yang lalu, hingga awal tahun ajaran baru ini duduk terpisah dengannya jauh di bangku jajaran belakang. Nurani yakin, Maya menyaksikan seluruh peristiwa kemarin dengan jelas. Nurani tahu, tentu Maya tak ambil bagian untuk mengucapkan kata-kata seperti "Bye bye pangeran" ataupun yang lainnya. Nurani tahu apa yang mungkin Maya rasakan saat peristiwa itu terjadi, meski seharian kemudian menjadi begitu sulit bagi Nurani untuk memberanikan diri menatap wajah sahabatnya itu. Bukan, bukan karena Maya tidak masuk sekolah pada hari itu. Hanya saja, Nurani tak berani. Sungguh tak berani.
     "Maafkan aku Maya..." gumam Nurani yang duduk di tempat favoritnya di kursi paling belakang. Sambil bersandar di kaca angkot dan memandang ke luar jendela, bergantian muncul bayangan senyum kikuk dari wajah anak lelaki itu, dan wajah dingin Maya yang telah sebulan ini mengusik perasaannya.
     Angkot pun meluncur perlahan. Hembusan roda-rodanya menerbangkan hingga beberapa senti serasah yang berserakan. Angin bertiup dan pohon-pohon di sepanjang jalan itu kembali menggugurkan daun-daun tua. Adzan ashar berkumandang.
     Beberapa puluh meter dari sana, seorang anak lelaki masih duduk di bangku taman sekolah, bersandar pada pohon beringin. Matanya menatap daun-daun yang jatuh. Sebuah kotak berisi coklat tergeletak di bangku sebelahnya. Menemaninya menatap daun-daun.

Rabu, 20 Juli 2011

mau buat novel tentang coklat ^^

    Apakah salah kalau saat ini hatiku berbunga-bunga?
       Ah tentu saja tidak. Daun-daun kuning dan coklat yang gugur dari beringin besar tempatku bersandar ini seperti kelopak-kelopak bunga sakura berwarna merah muda. Maka menunggu selama setengah jam tak menjadikanku risau sama sekali. Tersenyum sendiri di taman depan sekolah juga tak masalah. Karena siapa sangka dia meminta bertemu. Kubaca berulang kali sms yang kuterima semalam, dari nomor yang kunamai 'Cahaya Hati', hehehe...
       "Maaf bisa bertemu di taman depan sekolah jam 3 sore?"
        Hm... sms perdana dari nomor yang sejak empat bulan terakhir ini tak pernah membalas satupun sms dariku. Kulihat warna huruf-hurufnya pun seolah berwarna warni seperti bunga...
       Lalu di sinilah aku menunggunya. Tiba lebih awal tiga puluh menit sebelum jam perjanjian. Mengira-ngira apa yang akan dia katakan.
Teringat semburat merah muda di wajahnya saat kuserahkan kotak coklat itu kemarin.
Mengharapkannya sedikit tersenyum padaku mungkin agak berlebihan. Atau apakah dia ingin berterima kasih atas sekotak coklat yang kuberikan di hari ulang tahunnya itu?
       Aku kembali bertanya-tanya sambil menghitung daun beringin yang gugur lalu menyapa pundakku dengan lembut. Tak terasa pukul tiga tepat, alarm ponselku sudah berbunyi, menyanyikan lagu 'I Heart You' dari boyband Indonesia yang memang kupasang sebagai lagu pengingat alarm. Hehe, harap maklum...
      Ketika itu tiba-tiba,
      "Assalamu'alaikum..." suara yang telah begitu kukenal menyapaku dari balik punggungku. 

      "Wa... wa'alaikumsalam," jawabku gelagapan. Refleks kumatikan ponselku yang sedang bernyanyi riang. Alamak... bisa gawat kalau sampai dia dengar lagu 'cenat-cenut' dari ponselku. Tepat waktu banget sih datengnya.
     "Du... duduk Nur," ucapku sambil menunjuk bangku di sebelah tempatku duduk. Dia tidak menjawab, tetapi sibuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku jadi merasa bego sendiri, mana mau dia duduk di sebelahku.
      Aku bingung mau duduk atau berdiri. Kurasakan wajahku memanas.
Tas ranselku tiba-tiba jatuh ke tanah. Sepertinya jadi aku yang salah tingkah.
      "Aku mau mengembalikan ini" katanya datar. Aku terbengong. Kulihat sekotak coklat yang kuberikan kemarin berada di tangannya, tersodor kepadaku.

      "Kenapa?" tanyaku.
      "Aku tidak bisa menerimanya," jawabnya sambil menatap ke tanah, dan tangannya masih menyodorkan kotak itu.

      "Kalau kamu keberatan mengingat tingkahku selama ini, kamu tidak usah khawatir coklat ini berkaitan dengan perasaanku..." aku ragu-ragu mengucapkan itu, karena aku pernah mengutarakan cinta padanya lewat sms, hehe... gombal banget sih aku jadi cowok...
      Dia terdiam. Wajahnya masih menunduk dan coklat di tangannya masih tersodor ke arahku.
      Angin berhembus dan daun beringin kembali gugur. Kali ini ia tak menjadi bunga sakura. Perasaanku mulai tak enak.
      "Coklat tak selalu berkaitan dengan cinta," kataku pelan-pelan.
      "Ya aku tahu, tapi aku benar-benar minta maaf..." katanya.

      Hening di antara kami.
      "Maaf..." ulangnya.

      Aku menghembuskan nafas perlahan.
      "Tidak apa-apa, memang aku hanya bertaruh dengan coklat-coklat itu. Meski sedikit berharap, tapi kupikir aku memang sudah siap kalau-kalau kau memang akan mengembalikannya," oh, sebenarnya aku tak siap...
      "Maaf aku harus mengembalikan ini."
      "Tidak apa-apa, ini untukmu saja. Mana mungkin aku menerima sesuatu yang telah kuberikan."
      "Bukan begitu, aku memang tidak bisa menerima ini."
      "Kalau kamu tidak mau memakannya kau bisa berikan pada orang lain."
      "Tidak bisa, kamu yang harus memeberikannya pada orang lain itu. Ada yang lebih mengharapkan coklat-coklat ini darimu," jawabnya. Aku terdiam beberapa saat.
      "Maya maksudmu? Kamu kan temannya, kamu saja yang berikan."
      "Kamu yang harus berikan padanya..."

      "Maaf nur, tapi..."
      "Maaf, tolong kamu berikan pada Maya.”
      Lalu dia meletakkan coklat itu di bangku di hadapanku, dan pergi begitu saja. Bahkan ia tak mengucapkan salam seperti ketika ia datang.

      Aku di sini sendiri menatap sosoknya yang menjauh menuju gerbang sekolah.
      Kutatap kotak coklat yang teronggok di hadapanku. Ketika terdengar olehku...
      "Mengapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu..." ponselku bernyanyi lagi, kali ini menandakan sms masuk. Rupanya tadi hanya kumatikan alarmnya.
      "Nut..." Kali ini benar-benar kumatikan. Lalu terduduk kembali di bawah beringin tua dengan daun-daun berguguran. Tak ada satupun daunnya yang seperti bunga sakura...